Rabu, 13 Februari 2013

Artikel sejarah tenis lapangan


Sejarah Tenis
Awal Mula Perkembangan Tenis
Permainan tenis merupakan olahraga yang sangat tua, hal ini ditunjukkan pada pahatan yang diperkirakan dibuat sekitar 1500 tahun sebelum masehi pada dinding sebuah kuil di Mesir, yang kemudian permainan ini menyebar ke Eropa pada abad ke-8. Pada awal perkembangannya tenis dimainkan dengan memakai tangan atau sebuah tongkat yang dipukulkan bergantian menggunakan sebuah bola dari kayu yang padat. Permainan ini kemudian berkembang menjadi permainan bola yang dipukulkan melintasi dinding penghalang. Media yang digunakan untuk memukul bola pada awalnya menggunakan sarung tangan kulit, namun berevolusi menjadi sebuah raket tenis ketika penambahan gagang dilakukan. Bola yang semula dari kayu pun berevolusi menjadi bola dari kulit yang diisi oleh dedak kulit padi.

Pada abad 16-18 permainan tenis sangat berkembang di Perancis, yang dinamai ‘Jeu de Palme’ dan digemari oleh kalangan Raja dan para bangsawan. Kata ‘tenis’ sendiri dipercaya berasal dari pemain Perancis yang sering mengucapkan kata ‘Tenez’ yang artinya adalah ‘Main!’ pada saat akan memulai permainan. Tenis pun menyebar ke Inggris, Spanyol, Itali, Belanda, Swiss, dan Jerman. Pada abad 19 olahraga tenis kembali naik daun setelah sebelumnya kemunduruan akibat Revolusi Perancis dan berkuasanya Napoleon Bonaparte di Eropa. Pada masa itu, tenis populer dengan sebutan ‘Lawn Tennis’ karena dimainkan di lapangan rumput. Pada masa ini juga mulai dikenalnya bola dari karet vulkanisir yang pada waktu itu dianggap dapat mengurangi rusaknya rumput di lapangan tanpa mengurangi elastisitas dari bola itu sendiri. Hal inilah yang memicu orang-orang mulai mencoba bermain tenis di permukaan yang baru seperti tanah liat (clay court) dan semen (hard court).

Kejayaan olahraga tenis memuncak mulai tahun 1869, hal ini ditandai dengan banyaknya peminat pada permainan tenis dibandingkan permainan Croquet yang sebagai olahraga musim panas kala itu.  Klub tenis pertama, Leamington, pertama kali didirikan di Perancis pada tahun 1872. Dua tahun setelahnya, tahun 1874, permainan tenis pertama kali dimainkan di Amerika Serikat. Amerika Serikat pun mendirikan klub tenis pertama di Staten Island, yang sejak saat itulah permainan tenis berkembang sangat pesat di Amerika Serikat. Pada akhirnya, Kejuaraan tenis pertama diselenggarakan pada tahun 1877.

Sejarah Tenis di Indonesia
Permainan tenis di Indonesia diperkirakan diperkenalkan oleh orang-orang Belanda atau para pelaut Inggris yang singgah di kota-kota besar Kepulauan Nusantara, namun tidak ada data yang pasti mengenai hal ini. Seperti di negeri-negeri lainnya, olahraga tenis lebih di kenal di kalangan bangsawan, hartawan, dan kaum terpelajar. Di Indonesia pada masa itu, hanya segelintir kaum pribumi yang mampu memainkan permainan ini. Jumlah kaum pribumi penggemar tenis mulai meningkat sekitar tahun 1920an. Tenis pun mulai dimainkan dalam kegiatan berbagai organisasi pemuda pada masa itu. Melihat antusiasme masyarakat terhadap olahraga ini sangat tinggi, maka pada Pekan Olahraga yang diadakan oleh Indonesia Moeda mengikutsertakan cabang tenis pada bulan Desember tahun 1935 di Semaran. Hal inilah menjadi saat dicetuskannya pembentukan Persatuan Lawn Tennis Indonesia (PELTI), dimana tanggal 26 Desember 1935 dicatat resmi sebagai hari lahirnya PELTI.

Pada era pengembangan PELTI (tahun 1936-1940), permasalahan utama PELTI adalah pada bidang keorganisasiannya, tidak jelas siapa sebenarnya yang berhak menjadi anggotanya, baik apakah itu persatuan/daerah, perkumpulan/klub, atau perorangan. Namun, pada akhirnya PELTI dapat menegaskan diri sebagai suatu organisasi nasional yang kokoh dan patriotik. Tahun 1941-1949 merupakan masa non-aktif PELTI diakibatkan getaran Perang Dunia mulai mengimbas ke Nusantara. Pada masa pendudukan Jepang, selain dikarenakan keadaan ekonomi yang suram, kaum penjajah jepang melakukan pembubaran semua organisasi, baik politik, sosial, maupun olahraga. Kegiatan PELTI pun terhenti. Kegiatan olahraga mulai dibangkitkan pada tahun 1937, yang membuahkan hasil didirikannya Persatuan Olah Raga Republik Indonesia (PORI) yang kemudian pada tahun 1938 diselenggarakannya Pekan Olah Raga Nasional (PON) pertama di Solo. Tenis pun termasuk dalam cabang olahraga yang dipertandingkan. Era pengembangan kembali terjadi pada tahun 1950 hingga tahun 1960, PELTI terus menggalangkan kegiatan di dalam negeri seperti kejuaraan tahunan dan juga turut aktif di dunia internasional dengan cara mendaftarkan diri sebagai anggota International Tennis Federation (ITF).
 http://ukortenisui.files.wordpress.com/2011/12/384338_2547376116630_1020613778_2794048_361791583_n.jpg?w=590&h=392
Pada awalnya PELTI sering mengirimkan atlet ke kejuaraan internasional, namun kian berkurang dan menjadi absen dikarenakan kesulitan dalam pembiayaan. Permasalahan PELTI lainnya adalah kurangnya pembibitan dan pembinaan pada calon atlet baru. Melihat hal tersebut, maka PELTI pun memasuki era pembinaan pada tahun 1961-1965). Banyak petenis junior yang akhirnya disekolahkan dan dibina di luar negeri seperti Amerika, Australia, dan Eropa untuk mendalami pendekatan ilmiha terhadap olahraga tenis. Sebagai hasil pembinaan yang dilakukan, sejak tahun 1966 PELTI pun mulai memasuki zaman keemasan (1966-1987), baik dari segi oganisasi maupun prestasi di lapangan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini pun terbantu oleh keberhasilan pembangunan sejak Orde Baru berkuasa. Beberapa tokoh yang telah berjasa pendirian maupun pengembangan induk organisasi tenis Indonesia ini antara lain adalah Dr. Ibnu Sutowo, Dr. Suwondho, Brig.Jen. Rusli, Andries Pangemanan, Dr. Affandi, Brig.Jen Wonosewojo, dan Komodor Udara Aburachmat.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar